3.16.2009

cahaya bulan poem

khirnya semua akan tiba pada suatu hari yg biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih selembut dahulu memintaku minum susu dalam tidur yang lelap
sambil membenarkan letak leher kemejaku
kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih
lembah bandalawangi
kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yg menjadi suram
meresapi belaian angin yg menjadi dingin
apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika kudekap, kau dekaplah lebih mesra
lebih dekat
apakau kau masih akan berkata
kudengar dekap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta
cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan
yg takkan pernah aku tahu dimana jawaban itu
bagai letusan berapi bangunkan dari mimpi
sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati


Jika Ingin Berlangganan klik disamping untuk berlangganan RSS feed Masukkan Email, atau ikuti kami di Twitter.
Nome: Email:

0 komentar:

Post a Comment

Recent Comment